Stand PKA-8 Jurusan Sejarah USK Perkenalkan Kebesaran Bangsa Melalui Sejarah

oleh
Wildan khalis, mahasiswa Sejarah semester akhir yang didampingi tujuh orang rekan lainnya, yakni Oka Mahdafika, Cut Alya Fatmawati , Mulya, Tia Ramadhani, Magfirah dan Naylis di PKA ke 8.foto.redaksi.medialatahzan.com

BANDA ACEH.medialatahzan com – Stand Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) – 8 Jurusan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala ( USK) Darussalam, Banda Aceh menampilkan puluhan judul buku sejarah, mulai dari sejarah raja-raja Aceh abad 16 sampai pahlawan nasional Indonesia.

Meski baru hari ke enam perhelatan PKA-8, selama 9 hari, 4 hingga 12 November 2023 di Taman Sulthanah Safiatuddin Banda Aceh, stand mahasiswa sejarah ini menarik perhatian ratusan pengunjung. Dibuku tamu tercatat 830 nana pengunjung.

” Sampai saat ini sudah sekitar 830 pengunjung. Target kami mungkin dalam PKA ini sekitar 1.000 pengunjung yang hadir disini”, kata Wildan khalis, mahasiswa Sejarah semester akhir yang didampingi tujuh orang rekan lainnya, yakni Oka Mahdafika, Cut Alya Fatmawati , Mulya,Tia Ramadhani, Magfirah dan Naylis.

Medialatahzan.com merasa beruntung diterima wawancara oleh para mahasiswa yang bersemangat dan tetap energik melayani pertanyaan setiap tamu PKA yang menyemut.

 

Pengunjung Stand Jurusan Sejarah FKIP USK terlihat asik membaca buku sejarah yang ditampilkan para mahasiswa Sejarah USK Darussalam Banda Aceh,foto.redaksi.medialatahzan.com.

 

Diperkirakan Kadis Pariwisata Aceh Almuniza Kamal, ada 10.000 pengunjung arena PKA -8 tiap malam termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.

Kegiatan PKA ikut dimeriahkan 4.829 seniman dan budayawan,, 117 peserta pameran, 23 BUMDes, 23 SMK, 72 pengrajin dan pedagang produk tradisional Aceh, serta 1.109 tenaga kreatif.

 

Sejarah Bukan Hal Yang Membosankan

 

Tujuan kami membuka STAN Jurusan Sejarah FKIP USK ini di PKA adalah, Wildan Khalis menjawab medialatahzan com,

Pertama untuk menarik simpati khalayak umum bahwasanya sejarah itu tidak selamanya membosankan.

” Mengingatkan bahwasanya kita pernah Jaya di masa lalu namun kita tidak pernah mengetahui “, ujarnya.

Yang kedua, dengan kami membuka STAN sejarah ini ada banyak koleksi-koleksi buku yang berkenaan dengan jalur rempah yang dapat kita akses ataupun kita baca

” Sehingga ketika kita baca ini kita mendapatkan informasi baru terhadap rempah-rempah terutama rempah-rempah yang ada di Aceh. Ada beberapa hal rempah-rempah di Aceh itu belum banyak orang yang mengetahui “, kata Wildan Khalis mahasiswa yang juga seorang muazzin yang aktif di kegiatan Remaja Masjid Al Furqan Beurawe Banda Aceh ini.

“Sehingga disini dengan adanya pameran buku-buku ini, sekitar 30 judul, termasuk karangan dosen USK dapat memberikan manfaat tersendiri bagi masyarakat umum”, ujar Wildan

Dari sekitar 30 judul buku, lanjutnya, ada beberapa karangan dosen USK yang ditulis seperti Dr. Husaini ibrahim kebetulan beliau dosen sejarah.

Selain itu, tulisan dari Dr. Mawardi umar, ini beliau menulis tesisnya.

Satu karangan buku, ada dari almarhum Dr. Muhammad gade ismail tentang senebuk lada, ulebalang di daerah idi kemudian juga ada informasi yang disampaikan tesis yang di tulis oleh Dr. Isa sulaiman tentang sejarah Aceh sebuah gugatan terhadap sebuah teradisi.

 

Sebagai Benang Emas

 

Kemudian, tambah Wildan yang dibenarkan Tia Ramadhani, juga ada beberapa hal yang sangat menarik seperti buku yang berkenaan dengan rempah-rempah ini ditulis oleh P. Suantoro yakni perdagangan lada pada abad ke-16.

Kenapa ini menjadi menarik, ujarnya berpromosi, karena ada salah satu sejarawan Belanda Farlen yang mengatakan ,

” Ketika dia datang ke Aceh dia melihat ada sebuah benang emas. Apa yang dimaksud dengan benang emas, itu lah lada. Dia melihat arah perbukitan lada ini sebagai emas, karena daya tingkat penjualan lada pada abad ke-16 itu begitu luar biasa di daerah Eropa sehingga dia menyebutkannya sebagai benang emas”, ungkap Wildan.

 

Minat Generasi Muda Rendah

 

Wildan menyebut, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya.

Menurut saya, sambung Wildan lagi, untuk sekarang minat mahasiswa itu terhadap sejarah kurang, bahkan rendah.

Untuk menjaga teradisi budaya sendiri itu sedikit. Sangat-sangat disayangkan, sangat rendah.

” Sehingga perlulah buku- buku sejarah itu untuk mengingatkan kembali kepada kita. betapa besarnya bangsa kita dulu dengan perjalanan sejarah yang begitu panjang bahkan dengan bangsa kita yang sangat besar orang-orang luar pun tertarik dengan negara dan hasil alam dari Indonesia..

Bahkan pun sangat disayangkan kalau kita lihat, berbicara masalah sejarah kita, bercerita akan sejarah tapi untuk merawatnya kita tidak bisa, ujar Wildan.

Membuka Wawasan Masyarakat Bahwa Betapa Pentingnya Sejarah

 

Mudah-mudahan dengan ada dibuka Stand Jurusan Sejarah FKIP USK di PKA ke 8 ini, kata Wildan Khalis berharap, dapat membuka wawasan masyarakat bahwa betapa pentingnya sejarah itu.

Karena, dengan belajar sejarah kita bisa mengetahui masa lalu yang mana dengan itu kita bisa ambil hikmah-hikmah terpenting bagian dari masa lalu kita terapkan di masa sekarang supaya masa depan itu akan menjadi lebih baik lagi, urai Wildan.

 

Kesan dan Pesan PKA.8

 

Kesan saya secara pribadi terhadap melaksanakan PKA sangat bagus sekali, mengingat betapa besarnya budaya kita, terlebih di Aceh dengan banyak etnis, suku yang ada di Aceh ini menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi masyarakat Aceh yang mana seperti kita tahu bahwasanya menyelenggarakan PKA ini juga diselenggarakan 5 tahun ini menjadi sebuah penantian tersendiri bagi masyarakat Aceh terhadap kerinduan pelaksanaan PKA berikutnya.

Yang kedua kesan saya terhadap Stand Sejarah di Pameran ini, menjadi satu hal yang sangat bagus akan lebih memberikan informasi bagus terhadap masyarakat mengingat,

” Kita ini adalah sebuah bangsa yang besar namun kita tidak pernah mengetahui bahwa kita itu pernah menjadi sebuah bangsa yang besar”, katanya.

Pesan saya untuk melaksanaan PKA sendiri, mudah-mudahan untuk 5 tahun yang akan datang pelaksanaan PKA itu konsepnya mungkin harus lebih matang.

Karena, mengingat dalam opening itu banyak komplen dari masyarakat. Banyak masyarakat yang berhadir tidak hanya dari Banda Aceh tapi dari seluruh Aceh berhadir sangat disayangkan sekali kalo hanya dibatasi untuk membukaan.

” Ya mudah-mudahan kedepannya bisa dicari tempat yang lebih luas agar seluruh komponen-komponen masyarakat Aceh dapat melihat opening seremoni. Kemudian adanya PKA ini juga akan mampu mendogkrak ekonomi masyarakat, terutama dengan adanya beberapa UMKM yang baru-baru bergabung atau pun baru dibentuk untuk memperoleh rezeki tersendiri bagi mereka”, katanya.( Kasman)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *