Rosid, sosok Jamaah Setia Gerakan Subuh Berjamaah

oleh

Medialatahzan.com. Banda Aceh-  Meskipun dingin udara malam menusuk sampai ke tulang, tidak menyurutkan langkah Rosid (59). Ia selalu ikut shalat subuh berjamaah.

Jarak 19 kilometer dari rumahnya di Ujung Batee, Aceh Besar ke kota Banda Aceh biasa ditempuhnya dengan sepeda motor kesayangannya sekitar 35 menit perjalanan.

Bagi Rosid, setiap pagi Jum’at, Sabtu dan Minggu jadi agenda tetap ke Banda Aceh bergabung dengan berbagai komunitas gerakan subuh berjamaah yang ada di kota ini, setidaknya dalam lima tahun terakhir.

Maka, tak heran bila komunitas gerakan subuh berjamaah, seperti BBC, Arafa, Suling, Jum’at Berkah dan GPS banyak yang mengenal Rosid.

Karena sejak ada gerakan subuh berjamaah diprakarsai beberapa komuninatis ini, Rosid selalu aktif mengikutinya tanpa jeda, kecuali saat dia sakit yang sempat dirawat di rumah sakit.

“ Saya ingin mencari ridha Allah. Makin jauh perjalanan pahala lebih besar. Shalat sunat fajar dua rekaat lebih baik dari dunia dan isinya. saya yakin itu. Bisa Shalat jama’ah, dengar tausyiah, dapat makan, ngopi pagi dan ngobrol sama teman-teman, Jadi senang, dapat ngilangin kesusahan hati ”, kata Rosid kepada media ini di rumahnya, Minggu lalu saat ditanya motifasinya jauh-jauh datang ke kota.

Merantau ke Aceh

Rosid berprofesi teknisi televisi ini, sudah 34 tahun menjadi warga Aceh. Ia bercerita, tamat STM di Bandung tahun 1983. Kemudian tahun 1984 saat masih lajang, mulai berkelana menjadi montir TV keliling, masuk kampung keluar kampung.

Ia merantau, mulai dari Lampung ke Bengkulu, Jambi, Padang dan Medan, sampai ke Aceh jalan selama 3 tahun. Tiba di Aceh tahun 1987.

“ Saya anak pertama dari 5 bersaudara. Merantau, karena di Bandung susah mencari kerja. Di Aceh nampaknya agak mudah yang penting mau bekerja”, kata Rosid yang saat tiba di Banda Aceh mau tidur di Mesjid Raya Baiturrahman karena tidak punya tempat tinggal. Tapi kemudian diajak tinggal menumpang tidur bersama Pak Sutrisno orang Jawa yang kebetulan bertemu di Mesjid Raya, kenangnya.

Selama 34 tahun merantau di Aceh, Rosid mempersunting gadis Aceh asal Piyeng Montasik, Mutia Dewi tahun 1989 yang memberinya anak tiga orang putra dan putri selama 10 tahun bersama dan kemudian berpisah.

Selanjunya, Rosid menikah lagi tahun 2000 dengan Ainul Mardiah putri Aceh asal Kuta Cot Glie, Aceh Besar sebagai istri kedua yang memberinya dua orang anak.

“Dimanapun kita berada jangan tinggalkan shalat”,itulah perinsip hidup Rosid. Kini lima orang anak Rosid dari dua istri memberinya kebanggaan dan kebahagiaan bagi keluarga.

Apalagi, anak pertama Rosid bernama Nata Atmaja, sudah 6,5 tahun bekerja di salah satu Rumah Sakit di Jerman setelah menamatkan pendidikan S1 kedokteran Unsyiah, Aceh, S1 kedokteran Jerman dan S2 Rehabilitasi Medis di Jerman.

Sedangkan Anak kedua, Rahmat Taufik juga sudah lulus sarjana Fisika UNPAD, anak ketiga perempuan, Risma, sudah menikah dan memberinya satu orang cucu.

Begitupun anak ke empat, Siti Humairah, kini sedang kuliah di Fakultas kedokteran Unsyiah, Aceh dan anak paling bungsu tengah belajar di Dayah Tafizd PATTANI.

Rosid sosok pekerja keras dalam menjalankan profesinya sebagai teknisi televisi sudah berkeliling di kabupaten/kota di Aceh, ke Aceh Tengah, Aceh Selatan, Meulaboh, bahkan sampai ke pulau yaitu Sabang dan Sinabang (Simeulue).

Satu lagi yang membahagiakan Rosid, berkat biaya diberikan anaknya yang bekerja di Jerman, Rosid dan isteri tercinta, Ainul Mardiah sudah sampai ke tanah suci Mekkah tahun 2019 yang lalu menunaikan ibadah Umrah, sebelum wabah Covid 19 melanda dunia. (Kasman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *