Rektor UIN Aceh : Kerjasama Internasional, Uni Emirat Arab Akan Bangun Masjid dan Museum Manuskrip Aceh

oleh -27 Dilihat
Rektor UIN Ar Raniry, Prof Dr Mujiburrahman MAg dihadapan puluhan wartawan yang menghadiri temu pers , Rabu (29/11/2023) siang di Wakop Solong Pango Banda Aceh.Temu pers ini digelar serangkaian dies natalis ke 60 perguruan tinggi kebanggan masyarakat Aceh itu.Foto.medialahzan.com/redaksi.

BANDA ACEH.medialatahzan.com – UIN Ar Raniry yang Oktober 2023 memperoleh akreditasi Perguruan Tinggi Unggul pertama di Indonesia dari BAN- PT dengan kriteria 9 terus mengembangkan sayap menuju institusi perguruan tinggi kelas dunia..

Untuk pengembangan kampus UIN 2 sudah mempersiapkan sejumlah program. Salah satu dalam kerjasama Internasional, Uni Emirat Arab akan membangun Mesjid yang representatif di kampus UIN Ar Raniry.

” Mesjid yang didirikan ini adalah bentuk kerjasama internasional. Mesjid ini multi fungsi.Bukan hanya mesjid, tapi disitu ada Museum Manuskrip. Aceh ini lumbung manuskrip terbersar di Asia Tenggara. Kemudian laboratorium bahasa, markas tahfidz Al Qur’an, dan sebagainya. Berbagai fasiltas pendidikan nantinya ada di sekeliling Masjid yang dibangun ini”.

Iklan Post

Rektor UIN Ar Raniry, Prof Dr Mujiburrahman MAg didampingi Kabag Humas UIN, Drs. Said Farza, menjelaskan hal ini dihadapan puluhan wartawan yang menghadiri temu pers , Rabu (29/11/2023) siang di Wakop Solong Pango Banda Aceh.Temu pers ini digelar serangkaian dies natalis ke 60 perguruan tinggi kebanggan masyarakat Aceh itu.

Menurutnya Pemerintah Uni Emirat Arab seyogianya sudah akan mengirimkan tim untuk pengukuran lahan dan sebagainya, namun karena tim tersebut, mereka lagi fokus membantu ke Palestina.

 

Bukti Kerajaan Aceh Hanya Tinggal Manuskrip dan Batu Nisan

 

Mujiburrahman menegaskan pentingnya
mendirikan Museum Manuskrip Aceh sebagai upaya melestarikan hasil karya indatu orang Aceh abad 16 sampai 19. Hasil manuskrip itu tersebar di seluruh penjuru dunia yang tentunya harus dipatenkan oleh orang Aceh sendiri.

Ia mengatakan, kita orang Aceh sering membanggakan diri.

“Kami dulu Aceh ini kerajaan besar di Asia tenggara Ya kan. Oke kalau ditanya sama orang, apa bukti Aceh itu pernah menjadi kerajaan besar. Coba bapak ibu ceritakan kepada kami apa bukti Aceh itu pernah jadi kerjaan besar?.

” Kira- kira kalau pertanyaan itu ditanya ke bapak ibu, apa jawabannya”, tanya Prof. Mujiburrahman kepada para wartawan.

Hari ini, kita ( di Aceh) keraton sudah tidak ada lagi, kata Mujib menjawab sendiri pertanyaannya. Seperti di Jawa, Jokja dan sebagainya yang membuktikan bahwa itu Keraton Raja.

” Hari ini yang bisa kita jawab bahwa bukti Aceh itu pernah menjadi kerjaaan besar di Asia Tenggara hanya tinggal dua, satu manuskrip, dua batu nisan. Dan ini tidak boleh hilang, kalau ini hilang maka hilang sejarahnya”, tandas Prof. Mujiburrahman.

Ia menjelaskan, manuskrip Aceh, kalau kita baca, kita lihat watermarknya, manuskrip Aceh itu rata- rata dari abad 16,17 ,18,19 dan
itu lengkap sekali, luar biasa.

Itu menggambarkan pada abad ke-16 dan sebagainya, hubungan dagang antara Aceh dengan Eropa itu sudah terjadi luar biasa banyaknya.

Kenapa luar biasa banyak ?, dari watermark. Watermark itu kan cap air, misalnya ini kertas Eropa, kata Mujib sambil mengangkat lembaran buku di hadapannya, kalau bapak ibu nantinya ke museum melihat manuskrip, lihat saja begini arahkan ke lampu atau matahari dia akan muncul di dalam itu cap kertas. Itu yang namanya dengan watermark, Mujiburrahman menerangkan.

Ditambahkannya, cap kertas itu ada yang bergambar singa ada yang berbentuk bulan sabit, dia punya ensiklopedi watermark itu.
Begitu kita tahu oh ini singa, ini berarti kertas Eropa produk Inggris misalnya. Kertas Eropa produk Italy, kertas Eropa produk India,

” Dan sebagainya dan itu lengkap di Aceh”, ujar Mujiburrahman

Ini menggambarkan bahwa kertas di Aceh ini dari berbagai negara. Ia menceritakan pak Azwardi Asra, teman karib beliau suatu hari usai mengikuti acara seminar mengatakan,

“Ada manuskrip di Aceh itu tidak ada lagi, di Asia tenggara tidak ada lagi”, katanya.

Saya katakan, kita coba ke Tanoh Abe dulu.

Begitu sampai di Tanoh Abe, kenang Mujib, waktu itu masih ada almarhum Tgk. Abu Dahlan. Dibawa keluarlah oleh Abu Dahlan satu manuskrip, itu kertas watermark produk Itali.

” Kertasnya tipis luar biasa kayak sutra. Itulah kitab yang oleh Pak Aswardi dianggap tidak ada lagi di Asia tenggara, ada di Aceh yaitu Tanoh Abe. Geleng kepala dia ( Aswardi) dipikir sudah tidak ada di Aceh “, kata Prof. Mujiburrahman.

Menurutnya, manuskrip Aceh itu masih tersimpan di Museum Aceh, Museum Ali Hasjmy, tempat masyarakat dan sebagainya,

Mujiburrahman menjelaskan bahwa manuskrip itu adalah tulisan tangan
yang tidak boleh disentuh sembarangan, tidak boleh diletakkan sembaragan, tidak boleh di-copy karena meleleh karena panas.

Dan banyak yang sudah rusak karena dimakan usia, tidak terawat dan sebagainya,

Kenapa manuskrip ini harus kita buat museum , kaji dan sebagainya, karena itu sumber ilmu pengetahuan, urainya.

Ia memberi contoh. Salah satu hari ini misalnya Bapak Ibu, kalau ke pasar Aceh mencari batik Aceh. Itu kan motif batik Aceh gersang sekali. Hampir semua motif batik itu “pintu Aceh”.

Seakan-akan tidak ada motif lain. Kalau bapak ibu membuka iluminasi pada manuskrip Aceh, katanya lagi, ukiran batik dan ukiran kayu yang ada di iluminasi batik Aceh bagus dan indah luar biasa.

” Dan itulah yang harus kita patenkan”, tegas Mujiburrahman.

Kemaren saya cerita kepada Kepala Dinas kebudayaan, ” itu harus dilestarikan “, urainya lagi.

Ulama- ulama Aceh, Orang – Orang Sangat Pandai

Makanya ini harus dilestarikan.Anak generasi kita hari ini hampir tidak tahu, itu karya indatu.

” Itu yang menggambarkan orang Aceh dulu itu bukan orang bodoh. Ulama- ulama
kita itu orang -orang sangat pandai”, katanya.

Kalau kita melihat manuskrip Aceh itu sangat bagus, indah luar biasa. Menariknya lagi, manuskrip Aceh ada tiga bahasa, yaitu bahasa Arab riil, bahasa Arab penuh, Arab jawi, Aceh jawi.

” Dan manuskrip Aceh hari ini tersebar hampir seluruh dunia”, ujar Mujiburrahman.( Kas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *