Penyesalan Ramadhan 1445 H Berlalu Bagai Gulungan Kertas

oleh
Keterangan foto: Jamaah masjid Al Furqan Beurawe kecamatan Kuta Alam Banda Aceh menunaikan qiamullail 10 malam terakhir Ramadhan 1445 H dalam kekhusukan bermunajat memburu malam Lailatul qadar. Foto.redaksi.medialatahzan.com./kasman.

Ramadhan 1445 H bulan penuh berkah, telah pergi selamanya. Tak pernah kembali meski ditangisi dengan air mata darah.

Siapa yang memanfaatkan bulan ini dengan tekun beribadah, ketika Ramadhan pergi ada sedih bercampur gembira, karena dosa-dosa diampuni Allah SWT.

Namun yang lalai dibulan istimewa ini, hanya menyisakan kesedihan dan penyesalan. Entah masih ada umur tahun depan, hanya Allah yang tahu.

Seorang teman menyikapi kepergian Ramadhan 1445 H curhat di sebuah cannal medsos.

Begini petikan curhatan bernada ” sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada guna”.

Ramadhan telah berlalu, dan ini adalah Ramadhan terburuk untuk saya selama lebih 20 tahun ini. Begitu ia memulai menulis curahan hatinya.

Seharusnya saya berada di mesjid beriktikab, tapi kenyataannya justru saya ketiduran dirumah, karena malamnya begadang di warung kopi dengan judul silaturahmi, silaturahmi yang hanya judul palsu.

Sesungguhnya hanya kongkow-kongkow, berbagi cerita dan tertawa terbahak. Penyesalan kini datang terlambat, saya melewatkan malam-malam bermunajat kepada Allah, bersujud memohon ampunanN ya, atas segala dosa yang saya perbuat, tapi justru itu yang tidak saya lakukan,

saya justru tertawa riang di warung kopi, di usia yang sudah menunggu waktu untuk kembali Ini,

“Saya masih lalai, sangat lalai, sehingga hampir tidak saya dapatkan qiyamullail kecuali satu malam”, tulisnya.

Tragis untuk sebuah perjalanan kehidupan, lanjut dia, untuk orang yang sudah pantas disebut kakek. Ramadhan telah berlalu, harapan saya untuk mendapatkan ampunan Allah telah terlewatkan, entah kapan saya bisa ketemu Ramadhan lagi, bermunajat kepada pencipta saya, Allah yang maha besar, Allah yang maha agung, akankah saya punya kesempatan pada tahun berikutnya, Wallahullalam, begitu ia tulis dalam nada tanya.

Ia berharap, semoga Allah masih memberi saya kesempatan,,Amiiin.

Kini Syawal sedang berjalan, saat orang sedang sibuk bersilaturahmi, saya justru Kelelahan akibat over silaturahmi, beberapa kali ambruk dan harus istirahat, belum cukup sembuh saya sudah silaturahmi lagi,, lalu ambruk lagi, terulang-ulang seperti perlombaan renang.

Sesal memang datang kemudian, saya pikir cukuplah silaturahmi itu, karena yang Allah perintahkan adalah untuk menyembah kepadanya, beribadah kepada nya, bersujud kepadanya, bukannya menikmati aroma kopi yang berlebihan.

Di usia tua seperti ini bukan saatnya lagi Holiday , bukan saatnya lagi traveling, apalagi memperlihatkan gigi ompong kita didepan corong Mix saat Karaoke, masa happy-happy itu sudah berlalu untuk kita,, tulisnya.

Coba hitung berapa banyak waktu terbuang, ia berintropeksi, diri, yang harusnya kita bersujud kepada Allah, melakukan shalat sunnat, mengqada shalat yang tinggal dimasa muda kita, atau bahkan shalat yang masih tinggal saat kita sudah tua, berzikir, mengaji, atau mendengar Teungku meng surah kitab ulama-ulama lampau, itu terlewatkan bagi saya,,,

“” Kini yang ada hanya penyesalan, sementara Ramadhan telah berlalu, dia pergi seperti gulungan kertas pada lembaran buku, meninggalkan jejak zaman sampai Ramadhan berikutnya”, tutupnya .

Teman, yang sudah pergi tak perlu diratapi. Masih ada waktu memperbaiki diri selagi hayat dikandung badan. Allah Maha luas rahmatNya. 24 jam sehari semalam jadi milik semua orang untuk dipakai membuat kebajikan atau kejahatan.Terserah yang jadi pilihan. Allah tetap menerima taubat hamba selagi nyawa belum sampai di kerongkongan.Semoga bermanfaat. Allahuallam…(ks)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *