Data Yang Valid Menjadi Kebutuhan Yang Krusial Dalam Perencanaan Pembangunan

oleh

LANGSA – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh melalui Bidang Pengendalian Penduduk (DALDUK) terus berupaya meningkatkan pelaksanaan program Kependudukan dengan melaksanakan penguatan kapasitas dan kapabilitas pengelola Rumah Data Kependudukan (RDK) yang lebih familiar dengan istilah Rumah DataKu yang berlangsung selama 3 (tiga) hari di hotel Harmoni kota Langsa, 4-6 Oktober 2022.

Kegiatan yang dilaksanakan secara regional ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan wawasan para kader RDK dalam menjalankan atau mengelola RDK di desanya masing-masing, mengingat saat ini telah ada aplikasi kampung keluarga yang berbasis IT.

Ir.Nurzikra Hayati selaku koordinator bidang DALDUK dan Zulfadli.SE sebagai panitia pelaksana menjelaskan bahwa kegiatan dibagi menjadi tiga yaitu Regional Tengah, Barat dan Timur dengan harapan pelaksanaannya akan lebih optimal dan hingga saat ini rumah data kependudukan di provinsi Aceh berdasarkan data aplikasi RDK tersebut sebanyak 309 RDK, dengan klasifikasi : sederhana : 249 RDK, lengkap : 8 RDK, dan paripurna : 52 RDK.

Sementara BKKBN Aceh diberikan target sebanyak 92 RDK Pro-PN yang berstatus Paripurna dan ke 92 RDK Pro-PN tersebut basisnya Kampung Berkualitas.

Kegiatan yang diikuti seratusan lebih sebagai peserta aktif tersebut terdiri dari ketua, pembina, kader RDK, PKB/PLKB dan pejabat penanggung jawab RDK dari OPD KB kabupaten/kota di wilayah timur.

Kepala BKKBN Aceh Drs Sahidal Kastri, M.Pd didampingi Kepala OPD KB Kota Langsa Amrawati, SKM.MKM dalam arahannya mengatakan bahwa ketersediaan data dan informasi penduduk yang valid, terkini dan terpercaya menjadi suatu kebutuhan yang krusial dalam perencanaan dan intervensi pembangunan.

Rumah DataKu tersebut diharapkan menjadi Bapedanya di Kampung Berkualitas dan kepala desa sebagai penanggungjawab Rumah DataKu mampu menjadi penggugah dalam pelaksanaan pembangunan baik yang bersifat fisik maupun non fisik.

Lebih lanjut Kepala BKKBN Aceh menyinggung persoalan Stunting yang saat ini masih berada di urutan ketiga dengan angka stunting yakni 33,2 persen dan kita telah melatih sebanyak 7.470 orang sebagai Tim Pendamping Keluarga untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan segala hal tentang stunting.

Mari bersama sama kita sosialisasikan bahaya Stunting dengan cara yang mudah dipahami misalnya mengajak masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, makan makanan yang bergizi, memberikan ASI pada bayinya minimal ASI ekslusif sehingga anak akan tumbuh sehat dan cerdas.

Pada momentum tersebut juga dilaksanakan perjanjian kinerja sama antara fakultas ekonomi universitas samudra dengan perwakilan BKKBN provinsi Aceh tentang kerjasama bidang penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung penerapan kurikulum merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) di universitas tersebut yang di tandatangani oleh Dekan fakultas ekonomi universitas samudra Makhroji, M.Pd.(Rilis Humas BKKBN Aceh.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *