“Asoe Lhok”

oleh

Oleh: Mukhlis Sulaiman, SE. MM

Masyarakat merupakan kumpulan individu yang terdiri dari berbagai golongan maupun kalangan yang tinggal dalam satu wilayah dan membentuk suatu interaksi didalamnya. Artinya bahwa dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya ada satu kelompok masyarakat saja, tentunya memiliki beragam latar belakang yang berbeda.

Berdasarkan perbendaan latar belakang ini lah kita semua dapat terdidik jiwa dan sikap untuk saling menghargai satu sama lain, dari perbedaan latar belakang tersebutlah membentuk kelompok masyarakat seperti halnya masyarakat pribumi yang dikenal dengan istilah (asoe lhok) dan masyarakat pendatang (ureng tamong).

sebutan‘Asoe Lhok’ red; dalam bahasa Aceh. Kata ini bukan berarti ‘daging dalam’ atau ‘isi dalam’ namun asoe lhok yang saya maksud disini adalah penduduk pribumi atau orang yang dilahirkan disuatu daerah pemukiman dan sudah menetap di suatu tempat dari awal mula hingga turun temurun mendiami di tempat tersebut, jika dulu pada masa Nabi Muhammad SAW kita mengenal dengan sebutan kaum Anshar dan kaum Muhajirin.

Bagi masyarakat Aceh, penggunaan kata asoe lhok kerab terdengar ketika ada peristiwa atau suatu kejadian yang melibatkan orang banyak atau perwakilan di antara kelompok dalam masyarakat, maka kebiasaanya dan sering dijumpai antara kelompok pribumi (asoe lhok) dan pendatang (ureng tamong), itu lebih dominan tuntutannya harus untuk kelompok asoe lhok.

Sehingga tak jarang juga terjadi pertikaian diantara asoe lhok dan ureng tamong, bahkan terkadang sampai melibatkan pihak ketiga untuk memediasi atau mendamaikan dua kelompok ini. Dalam tahap penyelesaian walaupun sudah melibatkan pihak ketiga untuk mendamaikan mereka, tetapi sangat jarang hasil keputusan dan kesepakatan berpihak kepada ureng tamong, melainkan dominannya keberpihakan tetap kepada asoe lhok sehingga ego eksentrik semakin mencuat.

Penggunaan kata asoe lhok bagi pribumi itu sah-sah saja asalkan ada tempatnya dan tentu saja tidak menimbulakan efek hingga terjadi perpecahan dalam masyarakat, asoe lhok tidak boleh melakukan hal-hal atau ucapan yang propokatif apalagi yang mengarah kepada rasisme sehingga bisa mencederai nilai-nilai demokarasi dalam masyarakat yang ujung-ujungnya dapat memicu kekacauan dan perpecahan umat.

Sebutan kata asoe lhok ini sering digunakan oleh orang-orang yang selalu berpikiran sempit, mereka selalu menganggap dirinya hebat dan terdepan dalam segala hal. Jika sudah mempunyai pemikiran seperti ini maka jangan harap pendatang dapat tempat dan penghargaan dari orang-orang yang memposisikan dirinya asoe lhok. Sifat keangkuhan dan keegoisan inilah yang bisa menimbulkan keributan antara asoe lhok dan pendatang.

Maka untuk menjaga keseimbangan dalam bermasyarakat, pendatang (ureung tamong) pun harus menjaga diri dari sikap yang tidak terpuji, tidak membuat keonaran yang bisa merusak nilai-nilai tatanan dalam bermasyarakat sehingga bisa menimbulakan keretakan silaturrahmi antar sesama. Namun sejauh apa yang dilakukan itu untuk kebaikan dan kamajuan suatu daerah tidak ada salahnya pendatang diberikan kesempatan untuk sama-sama berkolaborasi membangun wilayah baik dari segi pembangunan fisik, mental, agama dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bila kita kaji lebih dalam, ternyata karakter asoe lhok sudah ada pada zaman awal mula Allah ciptakan manusia yaitu Nabi Adam AS yang dipraktekkan oleh makhluk Allah bernama Iblis, semoga praktek-praktek asoe lhok di zaman sekarang ini tidaklah semirip atau berlebihan dengan yang pernah diprakrekkan nya oleh Iblis hingga mengundang murka Allah.

Cukup menjadi pelajaran dan hikmah bagi semua umat manusia dimuka bumi ini, yaitu dari kisah Iblis yang angkuh sombong, kesombongan iblis terjadi ketika Allah SWT perintahkan iblis untuk sujud kepada Nabi Adam AS, tetapi karena ia menggangap dirinya lebih mulia dan merasa orang lama (asoe lhok) yang duluan tinggal di syurga maka ia enggan dan tidak sudi untuk menuruti perintah Allah SWT agar sujud kepada Nabi Adam AS. Oleh karena keangkuhan dan kesombongannya itu lah Allah murka kepada iblis, lalu Allah beri hukuman kepada iblis untuk keluar dari pada syurga.

Maka sebagai muslim yang bijak dan beriman hidup saling menghargai satu sama lain merupakan hal yang terpuji, penggunaan kata asoe lhok bukanlah hal yang utama, karena kepentingan hidup rukun dengan tetangga, saudara, kerabat sangat di utamakan. Ketika hubungan tali silahturrahim sudah retak tak lagi rekat seperti sebelumnya disinilah muncul ego masing-masing individu untuk saling meminta maaf duluan. Jadi solusinya kita dituntut untuk saling memaafkan.

Salah satu kecenderungan dan kebiasaan orang beriman adalah selalu ingin berbuat baik kepada orang lain, baik memiliki hubungan kekerabatan atau tidak, yang dikenal maupun tidak dikenal. Sifat orang beriman selalu ingin berbuat baik, karena itu merupakan salah satu cara bersyukur kepada Allah SWT atas kebaikan-kebaikan yang Allah curahkan dengan cara saling bermaaf-maafan.

Jika ada kesalahan dan kekeliruan maka carilah solusi terbaik dengan cara musyawarah dan mufakat. Dengan demikian akan memperoleh sebuah hasil terbaik untuk kebersamaan, bukan dengan cara saling menyerang, cacian dan hasutan sehingga berdampak pecahnya kesatuan dalam bermasyarakat.

Allah berfirman dalam Al-Quran. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Imran: 103)

Dalam Islam, sikap menghargai orang lain merupakan identitas seorang Muslim sejati. Seorang yang mengakui dirinya muslim, ‘wajib’ menghargai orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Tidak termasuk golongan umatku orang yang tidak menghormati mereka yang lebih tua dan tidak mengasihi mereka yang lebih muda darinya, serta tidak mengetahui hak-hak orang berilmu.” (HR. Ahmad).

Islam adalah agama rahmatan lil’alamin dan islam mengajarkan kita agar saling menghargai satu sama lain. Sikap menghargai terhadap orang lain tentu didasari oleh jiwa yang santun atau didasari oleh akhlakul karimah yang dapat menumbuhkan sikap saling menghargai.

Menghargai hasil karya orang lain merupakan salah satu upaya membina keserasian dan kerukunan hidup antar manusia agar terwujud suatu kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan menghargai sesuai dengan harkat dan martabat seseorang sebagai umat manusia.

Kemampuan untuk mendidik jiwa manusia harus dilatih terlebih dahulu sehingga mampu bersikap penyantun. Misalkan, ketika bersama-sama menghadapi persoalan tertentu, seseorang harus berusaha saling memberi dan menerima saran, pendapat, atau nasihat dari orang lain yang pada awalnya pasti akan terasa sulit.

Sikap dan perilaku ini akan terwujud bila pribadi seseorang telah mampu menekan ego pribadinya melalui pembiasaan dan pengasahan rasa empati melalui pendidikan akhlak. Selanjutnya, ia akan selalu terdorong untuk berbuat yang baik kepada orang lain.

Sikap saling menghargai merupakan sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim, sehingga dapat menjalin hubungan yang harmonis. Orang yang bisa menghargai orang lain akan menjaga lisan, sikap dan perbuatan agar tidak menyinggung dan menyakiti antar sesama.

Ingat, kebenaran yang kita pegang, belum tentu dianggap benar oleh orang lain. Sebab, dalam banyak hal kita tidak boleh memaksakan sesuatu hal yang menurut kita itu benar. Jika budaya suatu daerah berbeda dengan syariat yang kita pegang, tidak baik jika memaksa mereka untuk patuh pada hal yang kita yakini. Sebab, bersikap demokratis (memberikan pilihan) adalah hal yang lebih baik.

Kolaborasi antara pribumi dengan pendatang sangat dibutuhkan demi mencapai sebuah hasil yang baik, tentu dengan cara saling menghargai, saling bahu membahu dan hilangkan prasangka buruk antar sesama, maka dengen demikian akan menghasilakan sebuah keputusan yang menguntungkan bagi semua orang.

Terakhir, mari kita membangun masyarakat yang cerdas baik dalam bersikap maupun pemikiran, hiduplah rukun dan damai, singkirkan keegoisme, jaga sikap dan lisan kita ibarat kata pepatah “mulutmu harimaumu” artinya setiap kita harus menjaga lisan yang diucapkan, jangan sampai lisan kita menyakiti dan menyinggung perasaan orang banyak karena ketika tidak berhati-hati maka akibatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. (sumber pemburunews.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *